Menggunakan atau sekadar memiliki Security Operations Center (SOC) saja tidaklah cukup. Yang benar-benar bisa membuat perbedaan adalah apakah SOC tersebut dibangun dengan pendekatan yang tepat.
Banyak organisasi berasumsi bahwa selama mereka sudah memiliki SOC, keamanan digital otomatis terjaga dengan baik. Kenyataannya, tidak semua SOC memiliki tingkat efisiensi yang sama. SOC yang dirancang dengan buruk bahkan bisa sama berbahayanya dengan tidak memiliki SOC sama sekali, dan pada akhirnya hanya menjadi pemborosan anggaran perusahaan.
Security Operations Center (SOC) sendiri dapat dipahami sebagai pusat operasional keamanan siber, yaitu tim dan sistem yang bertugas memantau, mendeteksi, menganalisis, dan merespons ancaman siber secara berkelanjutan (24/7) terhadap sistem, jaringan, dan data organisasi.
Hana Abriyansyah, CEO Cisometric, telah bertahun-tahun bekerja bersama berbagai tim keamanan siber, mulai dari investigasi insiden kebocoran data hingga melakukan simulasi serangan untuk menguji ketahanan sistem.
Dari pengalamannya tersebut, ia mengidentifikasi perbedaan mendasar antara SOC yang tidak efektif dan SOC yang benar-benar mampu melindungi bisnis. Sayangnya, banyak SOC saat ini masih terjebak pada pendekatan lama yang tidak lagi relevan dengan ancaman siber modern yang cepat dan kompleks.
Tiga Prinsip Utama SOC yang Tepat — Menurut CEO Kami
1. Kecepatan adalah segalanya: Jika SOC Anda tidak cepat, tandanya SOC tersebut tidak bekerja dengan efektif
Dalam keamanan siber, waktu bisa menentukan apakah sebuah insiden siber dapat dikendalikan atau menjadi bencana besar. Jika sebuah SOC membutuhkan waktu 30 menit untuk mendeteksi serangan kritis, pada titik tersebut penyerang kemungkinan sudah memiliki akses mendalam ke sistem, meningkatkan hak akses (privilege escalation), dan bahkan mengekstraksi data sensitif.
“Efektivitas SOC dinilai dari kemampuannya untuk mendeteksi dan merespons ancaman dengan cepat,” jelas Hana Abriyansyah. “Jika SOC Anda membutuhkan waktu 30 menit untuk mengidentifikasi serangan kritis, hacker sudah jauh berada di dalam sistem, bergerak secara lateral, meningkatkan akses, dan mencuri data. Ketika tim Anda kemudian bergerak untuk menanganinya, semuanya sudah terlambat.”
SOC yang efektif harus mampu mendeteksi ancaman secara real-time, bukan berjam-jam kemudian. Inilah alasannya mengapa Artificial Intelligence (AI) dan Machine Learning (ML) kini bukan lagi sekadar pelengkap pada SOC, melainkan kebutuhan.
AI mampu menganalisis miliaran data dalam waktu singkat, mengenali anomali tersembunyi yang sulit ditangkap secara manual, serta mengorelasikan peristiwa keamanan dari berbagai lapisan sistem.
Standar Service Level Agreement (SLA) pada SOC Cisometric sudah ditetapkan maksimal lima menit untuk insiden yang bersifat kritis. Bandingkan dengan banyak SOC tradisional lainnya yang masih membutuhkan 30 menit atau lebih. Perbedaannya jelas, SOC yang lambat adalah SOC yang tidak efektif.
2. Kemampuan untuk mengurangi false positive
Salah satu tantangan terbesar dalam operasional keamanan siber saat ini adalah alert fatigue, yaitu kondisi ketika sistem analis SOC dibanjiri dengan terlalu banyak peringatan keamanan dalam waktu yang singkat.
Banyak dari alert tersebut merupakan false positive, yaitu kondisi ketika sistem keamanan secara keliru mengidentifikasi aktivitas normal atau sah sebagai ancaman. Hal ini menyita waktu dan sumber daya untuk investigasi yang sebenarnya tidak diperlukan. Akibatnya, fokus tim keamanan menurun, respons menjadi lebih lambat, dan ancaman berisiko terlewat karena tertutup oleh volume alert yang berlebihan.
“Jika SOC Anda tidak dirancang untuk memfilter dan memvalidasi ancaman secara otomatis, analis keamanan yang dilakukan hanya akan membuang waktu untuk mengejar false positive,” ujar Hana. “Korelasi berbasis AI sangat krusial karena mampu memvalidasi peringatan dari berbagai lapisan keamanan, sehingga hanya ancaman nyata yang benar-benar di eskalasikan.”
Dengan korelasi berbasis AI, sistem dapat mengaitkan dan memverifikasi alert dari berbagai sumber keamanan. Hasilnya, analis keamanan dapat berfokus pada insiden yang benar-benar berisiko, bukan tenggelam dalam notifikasi yang tidak relevan.
3. Visibilitas menyeluruh: Jika SOC Anda tidak bisa melihat segalanya, pasti akan ada yang terlewati
Banyak SOC masih memiliki visibilitas yang terbatas, umumnya hanya berfokus pada keamanan server. Padahal, banyak serangan siber justru berawal dari endpoint, seperti perangkat karyawan yang terinfeksi melalui email phishing.
“Banyak SOC hanya memantau server, dan itu adalah blind spot yang besar,” kata Hana. “Serangan siber sering kali tidak dimulai dari server, melainkan dari endpoint pengguna, seperti email phishing atau perangkat karyawan yang terkompromi. Tanpa integrasi Extended Detection & Response (XDR), SOC kehilangan bagian penting dari gambaran ancaman secara menyeluruh.”
Bayangkan skenario berikut:
Data keuangan perusahaan tersimpan aman di data center
Peretas tidak menyerang data center secara langsung, tetapi menginfeksi laptop karyawan melalui email phishing
SOC tradisional baru mendeteksi ancaman ketika penyerang sudah bergerak lebih jauh ke dalam jaringan data center
SOC yang tepat, dengan Extended Detection & Response (XDR), mendeteksi ancaman sejak titik masuk pertama sebelum kerusakan meluas
Inilah mengapa integrasi penuh dengan berbagai tools keamanan, seperti firewall, antivirus, Endpoint Detection & Response (EDR), dan sistem lainnya, menjadi sangat krusial. SOC yang efektif harus mampu memusatkan dan mengorelasikan data dari seluruh ekosistem keamanan, bukan hanya sebagian kecilnya saja.
Berinvestasi pada SOC yang Salah: Mahal dan Tidak Efektif
Layanan SOC merupakan investasi besar, apalagi jika dibangun sendiri secara internal. Jika SOC tersebut tidak memiliki kecepatan, efisiensi, dan integrasi yang memadai, maka perusahaan tidak hanya gagal melindungi bisnis, tetapi juga menjadi pemborosan biaya.
“Layanan SOC itu tidak murah,” tegas Hana. “Jika SOC yang Anda miliki atau gunakan tidak dibangun dengan prinsip-prinsip di atas, maka SOC tersebut tidak dapat melindungi bisnis Anda dan Anda hanya membuang-buang uang saja. Yang Anda dapatkan hanyalah perasaan aman yang palsu.”
SOC yang lambat dan tidak terintegrasi menciptakan false sense of security. Organisasi merasa aman, padahal sebenarnya sangat rentan terhadap ancaman siber yang semakin canggih. Dampaknya bukan hanya kerugian finansial, tetapi juga risiko reputasi dan konsekuensi terhadap regulasi atau compliance.
Perkuat Keamanan Bisnis Anda dengan SOC yang Tepat dan Modern
Di tengah ancaman siber yang semakin kompleks dan bergerak cepat, memiliki SOC saja tidak cukup. SOC harus dirancang untuk bekerja secara cepat, cerdas, dan menyeluruh. Tanpa kecepatan deteksi, tanpa pengelolaan alert yang efektif, dan tanpa visibilitas penuh terhadap seluruh ekosistem IT, SOC Anda tidak akan bisa memberikan perlindungan yang efektif terhadap perusahaan.
SOC yang benar-benar efektif bukan hanya soal teknologi, tetapi bagaimana sistem, proses, dan sumber daya manusia dapat bekerja bersama untuk mendeteksi ancaman sejak dini dan meresponsnya sebelum berdampak pada bisnis. Investasi pada SOC yang tepat juga berarti investasi pada ketahanan operasional, kepercayaan pelanggan, dan keberlangsungan bisnis Anda dalam jangka panjang.
Cisometric membangun Security Operations Center dengan pendekatan modern yang menekankan kecepatan respons, pengurangan false positive, serta visibilitas menyeluruh melalui integrasi berbagai lapisan keamanan. Pendekatan ini membantu organisasi untuk tidak hanya bereaksi terhadap insiden, tetapi juga mengantisipasi dan memitigasi ancaman secara lebih proaktif.
Pelajari lebih lanjut tentang SOC dari Cisometric dan bagaimana kami dapat membantu memperkuat keamanan siber organisasi Anda.
Hubungi tim kami untuk diskusi lebih lanjut, klik di sini.
Untuk insight mengenai keamanan siber lainnya, ikuti Cisometric di media sosial.
LinkedIn: Cisometric
Instagram: @cisometric
YouTube: Cisometric