W3LL Phishing Network Dismantled by FBI–Polri, Exposing How Modern Phishing Became Harder to Detect
The Federal Bureau of Investigation (FBI) Atlanta Field Office and the Indonesian National Police (INP) have successfully concluded a multi-...
Oleh Cisometric Marketing Team, Diterbitkan pada Maret 17, 2025
Pernahkah Anda mengalami situasi ketika Anda menerima panggilan telepon, tetapi ketika Anda angkat, lalu berkata, “Halo?” tidak ada suara sama sekali di ujung telepon. Hening. Setelah beberapa detik, panggilannya terputus.
Sekilas mungkin Anda berpikir itu hanya salah sambung atau ada masalah pada jaringan. Tapi sebenarnya, bisa saja itu adalah awal dari modus penipuan yang jauh lebih berbahaya.
Hal inilah yang disebut dengan silent call, yaitu saat kamu menerima telepon dari nomor tak dikenal, dan ketika diangkat, tidak ada suara atau respons sama sekali dari pihak penelepon.
Modus ini kini banyak digunakan oleh pelaku kejahatan siber untuk mendeteksi apakah nomor Anda aktif digunakan. Kalau Anda mengangkat dan menjawab teleponnya, nomor Anda akan dianggap valid, dan bisa dijadikan target untuk aksi penipuan berikutnya, mulai dari phishing, pencurian identitas, hingga kloning suara menggunakan teknologi AI.
Bagaimana Modus Silent Call Bekerja?

1. Silent call
Anda menerima panggilan dari nomor tidak dikenal. Saat diangkat, tidak ada suara atau percakapan dari pihak penelepon. Setelah beberapa detik, panggilan terputus.
Tujuan dari tahap awal ini:
Memastikan bahwa nomor Anda digunakan secara aktif
Mendeteksi suara latar atau respons sekecil apa pun (batuk, gumaman, suara di lingkungan sekitar) untuk mengonfirmasi bahwa nomor tersebut valid
Langkah yang sebaiknya dilakukan:
Jangan menjawab panggilan dari nomor asing yang tidak Anda kenal
Jika sudah terlanjur diangkat dan tidak ada suara, segera tutup panggilan tanpa mengatakan apapun
2. Nomor Anda masuk ke scammer database
Jika Anda mengangkat silent call, nomor Anda akan ditandai sebagai aktif dan dimasukkan ke dalam daftar target penipuan. Daftar ini bisa digunakan oleh scammer itu sendiri atau dijual ke pihak lain seperti pelaku robocall, phishing, atau penipuan berbasis AI lainnya.
Pencegahan:
Blokir dan laporkan nomor mencurigakan
Aktifkan fitur pemblokiran otomatis di ponsel Anda
3. Follow-up call (panggilan lanjutan)
Beberapa hari atau minggu kemudian, Anda mungkin akan menerima panggilan lanjutan. Kali ini, pelaku akan menyamar sebagai pihak yang terlihat terpercaya, seperti:
Bagian penanganan penipuan dari bank
Instansi pemerintah
Anggota keluarga yang sedang dalam kondisi darurat
Modus ini dirancang untuk membangun kepercayaan dan menciptakan kepanikan agar Anda segera bereaksi tanpa berpikir panjang.
Tindakan yang disarankan:
Jika penelepon mengaku dari bank atau instansi resmi, tutup telepon dan hubungi langsung nomor resmi dari bank atau instansi tersebut yang tertera di situs atau aplikasi resmi mereka
Jika penelepon mengaku sebagai anggota keluarga, hubungi kembali nomor yang benar-benar Anda kenal
4. Kloning suara dengan bantuan AI (jika Anda berbicara ketika menjawab silent call pada langkah 1)
Jika Anda berbicara selama panggilan silent call (meskipun hanya beberapa detik), scammer dapat merekam suara Anda dan menggunakannya untuk membuat kloning suara dengan bantuan teknologi AI.
Menurut laporan dari Kompas, hanya dengan tiga detik sampel suara Anda, AI dapat menciptakan kloning suara yang terdengar meyakinkan dan menyerupai suara asli.
Tujuan dari kloning suara ini:
Menelepon keluarga atau rekan Anda dengan suara tiruan, mengaku sebagai Anda dan meminta uang
Menggunakan suara Anda untuk melewati sistem otentikasi suara (voice authentication) di bank atau layanan tertentu untuk mendapatkan akses ke rekening atau akun Anda
Melancarkan penipuan berbasis deepfake, seperti keadaan darurat palsu atau ancaman penipuan lainnya
Baca juga: From Fiction to Reality: How Deepfakes Are Changing Our World
Tips pencegahan:
Hindari mengatakan kata-kata seperti “Iya,” “Betul,” atau menyebut nama Anda atau orang lain saat menjawab panggilan dari nomor tidak dikenal
Gunakan kode rahasia atau kata sandi keluarga untuk verifikasi identitas saat ada permintaan mendesak
5. Phishing
Jika Anda terlanjur menerima panggilan dengan durasi yang cukup lama, pelaku akan mulai menggali informasi pribadi Anda, seperti:
Tanggal lahir
Nomor rekening atau kartu kredit
Nomor identitas (KTP)
Kode OTP
Mereka akan menciptakan narasi yang mendesak, seperti:
"Ada aktivitas mencurigakan di akun Anda, mohon konfirmasi agar akun tidak diblokir."
"Kami dari bank, mohon verifikasi nomor kartu Anda untuk mencegah penipuan."
Tujuan dari tahapan ini:
Mengumpulkan cukup data untuk mengambil alih akun Anda
Menggunakan taktik ketakutan agar Anda segera bereaksi tanpa berpikir panjang
Langkah pencegahan:
Jangan pernah memberikan informasi pribadi melalui telepon, terutama jika Anda tidak memverifikasi siapa peneleponnya
Selalu konfirmasi dengan menghubungi langsung institusi terkait melalui channel resmi mereka
Baca juga: Phishing: New Methods and How to Stay Safe
6. Pengambilalihan Akun
Jika data Anda yang berhasil scammer dapatkan cukup lengkap, scammer akan mencoba mengakses akun Anda dengan berpura-pura menjadi Anda.
Apa saja yang bisa mereka lakukan:
Mengajukan permintaan untuk reset password
Mengubah detail akun seperti nomor telepon dan email
Melakukan transfer atau penarikan dana tanpa izin
Pencegahan:
Aktifkan two-factor authentication (2FA) pada akun-akun Anda, terutama online banking
Gunakan password yang kuat dan berbeda untuk setiap akun dan layanan yang Anda miliki
Baca juga: Protect Your Accounts with 2FA – It's Easier Than You Think! ; Stop Making These Common Password Mistakes
7. Penipuan Finansial & Pencurian Identitas
Begitu akun Anda berhasil diambil alih, scammer dapat:
Mentransfer atau menarik dana dari rekening Anda
Membuka pinjaman atau kartu kredit atas nama Anda
Menggunakan identitas Anda untuk aktivitas ilegal
Menjual data pribadi Anda ke jaringan penipuan lain
Jika Anda menjadi korban:
Segera pantau transaksi di rekening Anda
Laporkan ke bank dan otoritas terkait sesegera mungkin
Ajukan pemblokiran sementara pada akses kredit (credit freeze) jika memungkinkan
Baca juga: What To Do After a Scam: 7 Steps for the First 24 Hours
Bagaimana Cara Melindungi Diri dari Modus Silent Call
Teknologi terus berkembang, dan begitu pula strategi kejahatan siber. Namun, Anda tetap dapat mengambil langkah proaktif untuk melindungi diri:

1. Jangan angkat panggilan dari nomor tidak dikenal
Biarkan panggilan masuk ke voicemail. Pihak yang benar-benar penting akan meninggalkan pesan atau menghubungi Anda melalui saluran resmi lainnya.
2. Jangan menjawab terlebih dahulu, jika panggilan tidak ada suara, segera tutup
Jangan menunggu atau mengatakan "Halo?". Semakin lama Anda menerima panggilan tersebut, semakin besar peluang suara Anda untuk direkam.
3. Hindari mengucapkan kata seperti "Iya", “Betul”, atau nama Anda
Jika direkam dengan AI, suara Anda bisa digunakan untuk melakukan verifikasi atau otorisasi dalam skema penipuan yang lebih kompleks.
4. Gunakan fitur pemblokiran panggilan
Aktifkan fitur seperti "Silence Unknown Callers" (iPhone) atau "Blokir Nomor Tak Dikenal" (Android). Aplikasi seperti Truecaller atau GetContact juga dapat membantu menyaring panggilan mencurigakan.
5. Jangan pernah berikan informasi pribadi Anda lewat telepon
Jika Anda merasa ada yang tidak wajar, tutup panggilan dan hubungi institusi terkait melalui kontak resmi yang tersedia di website atau aplikasi.
6. Gunakan kata sandi keluarga
Khususnya untuk menghindari penipuan dengan kloning suara, buatlah sistem verifikasi internal di antara keluarga Anda.
7. Laporkan panggilan mencurigakan
Laporkan kejadian ke:
Otoritas Jasa Keuangan (OJK)
Lembaga Perlindungan Konsumen Nasional Indonesia (LPKNI)
Operator seluler Anda
Tetap Waspada, Tetap Aman
Apapun bentuknya (phishing, kloning suara, atau penipuan keuangan), scammer selalu mengandalkan reaksi Anda.
Baca juga: Cybersecurity Weakest Link: The Human Factor
Dengan meningkatkan kewaspadaan dan memahami cara kerja modus seperti silent call, Anda dapat melindungi diri serta orang-orang terdekat dari risiko penipuan digital.
Untuk tips keamanan siber lainnya, ikuti Cisometric di media sosial.
LinkedIn: Cisometric
Instagram: @cisometric
YouTube: Cisometric
The Federal Bureau of Investigation (FBI) Atlanta Field Office and the Indonesian National Police (INP) have successfully concluded a multi-...
Scattered Spider is a cybercrime collective known for turning social engineering into a precision, identity-first attack method. Instead of...
Despite significant progress in digital defenses, organizations remain vulnerable to one critical factor that technology cannot fully secure...
Cari Artikel Berdasarkan Kategori
Kami menggunakan cookie untuk meningkatkan pengalaman menjelajah, menganalisis lalu lintas situs, dan menyajikan konten yang relevan. Pilih cookie mana yang Anda izinkan. Kebijakan Privasi